Produksi Minyak Sawit di Indonesia
Di samping itu pabrik minyak kelapa sawit membutuhkan sarana-sarana pelengkap dan pendukung yang berupa jalan, perumahan karyawan, ruarig parkir, kantor unit pengolahan, laboratorium, gudang, unit pengolahan air, sumber tenaga, incenerator, bengkel dan unit pengolahan limbah. Fungsi dari jembatan timbang adalah untuk menimbang truk agar diketahui tonase TBS yang masuk ke pabrik dan tonase kernel, CPO, serta janjang kosong yang dibawa keluar pabrik. Agar proses dapat berjalan lancar dan kontinu pengelolaan material perlu mendapat perhatian serius. Hal itu harus diperhatikan akan kebersihan alat tersebut dan jika pembersihan secara otomatis belum didapat hasil yang maksimal maka sebelum proses kita akan melakukan pencucian secara manual dan waktu ditambah. Brondolan masih akan diolah pada stasiun digester dan press proses ini memisahkan nut dan serat serta diambil kandungan CPO dari serat (sludge), stasiun klarifikasi merupakan stasiun selanjutnya untuk pengolahan CPO. Pengolahan TBS pada dasarnya memisahkan minyak dari daging buah dan pengupasan inti sawit. Kandungan daging buah terdiri dari 95% gliserin dan 5% asam lemak. Setiap TBS mengandung 60 65% brondolan (fruit), dan setiap brondolan mengandung 54% daging buah (pericarp), 32% cangkang (Shell), dan 14% inti sawit (Bintoro, 1988). Daging buah dan inti merupakan bagian-bagian terpenting dalam pengolahan. Daun baling-baling akan selalu bergerak dengan permukaan cangkang buah kelapa sawit yang cukup keras, sehingga akan cepat aus dan harus sering diganti.
Keuntungan yang akan diperoleh dengan melakukan pengelolaan persediaan yang baik adalah dapat melayani kebutuhan persediaan akan bahan mentah atau bahan jadi secara kontinu serta dapat meminimalkan biaya produksi dan operasi. Dengan demikian fasilitas dan biaya transportasi memiliki bobot rendah. Ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam pemilihan lokasi usaha antara lain : lingkungan masyarakat, kedekatan dengan pasar, tenaga kerja, kedekatan dengan bahan mentah, fasilitas dan biaya transportasi, sumber daya alam, serta kemungkinan perluasan (T. 3) Dekat dengan tenaga kerja lapangan sehingga memudahkan dalam pengawasan. Atas dasar pertimbangan di atas lokasi harus dekat dengan kebun (jarak dengan tiiik terjauh sekitar 10 km) dan luas kebun harus mampu mendukung pengolahan secara kontinu sesuai dengan kapasitas pabrik. Seperti telah’ disinggung sebelurpnya TBS harus diproduksi dalam hamparan yang luas,mengalami penurunan kualitas dengan naiknya ALB, proses pengolahannya membutuhkan air cukup banyak, membutuhkan sarana-sarana pelengkap dan pendukung pabrik, serta tenaga kerja yang kontinu. Dari kenyataan ini fasilitas listrik memiliki bobot yang kecil dalam menentukan pabrik minyak kelapa sawit. Potensi pencemaran pabrik minyak kelapa sawit disajikan pada Tabel 3.1. Dari tabel di atas jelas terlihat hampir semua bahan pencemar di atas baku mutu yang ditetapkan oleh Kep Men KLH No.3 tahun 1991. Hal ini berarti UPL menjadi syarat mutlak dan aspek lingkungan masyarakat memperoleh bobot yang tinggi dalam penentuan lokasi pabrik.
2. Memberikan penjelasan tentang keuntungan penerapan manajemen produksi dan operasi dalam mengoptimalkan sumber daya alam, waktu dan dana dalam pengolahan TBS menjadi CPO dan Kernel. Main Switchboard ini terhubung menjadi satu dengan Main Distribution Board yang dilengkapi dengan pengaman berupa OCR, UVR, EFR, RPR dan peralatan sinkron dan switching dan juga capasitor bank untuk perbaikan factor daya. Kegunaan air tersebut sebagai pengisi ketel untuk menghasilkan uap yang selanjutnya digunakan untuk menggerakkan turbin, perebusan, dan pengepresan. Stasiun pemurnian yaitu stasiun pengolahan di PKS yang bertujuan untuk melakukan pemurnian MKS dari kotoran-kotoran, seperti padatan, lumpur dan air. Luwu Utara -- Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT. Keberadaan pabrik itu diharapkan membantu penyerapan tandan buah segar kelapa sawit milik petani dengan harga memadai. Bertitik tolak dari tujuan yang dipaparkan diharapkan sistem produksi pabrik minyak kelapa sawit bermanfaat dalam menambah pengetahuan kalangan awam, pengusaha dan ilmuwan tentang praktek produksi CPO dan Kernel yang menjadi produk primadona perkebunan.
Tata letak pabrik berkaitan dengan proses yang terjadi dalam pabrik. Fasilitas transportasi yang harus sudah ada relatif tidak menjadi masalah, karena hampir seluruh propinsi yang arealnya sesuai untuk kelapa sawit transportasinya sudah memadai kecuali Irian Jaya. Hal ini menyebabkan Unit Pengolahan Limbah (UPL) menjadi salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi. TBS harus diproduksi dalam skala besar dan pada hamparan tanah yang luas agar dapat memberikan hasil yang menguntungkan. Kondisi yang demikian membutuhkan penerapan manajemen produksi dan operasi yang tepat agar penentuan lokasi, tata letak, pengelolaan bahan mentah dan produk, serta pengelolaan tenaga kerja dapat memberikan hasil yang optimal secara teknis maupun ekonomis. Pabrik pengelolaan minyak kelapa sawit dalam hal ini harus mempunyai tugas untuk membuat penampungan limbah sendiri agar tidak langsung masuk lingkungan dan berdampak merusak pada lingkungan sekitar. Titik tumbuh batang kelapa sawit terletak di pucuk batang, terbenam di dalam tajuk daun. Produk olahan lebih lanjut yang dapat dihasilkan dari minyak kelapa sawit antara lain adalah cokelat, lipstik, margarin, detergen, sabun, dan biodiesel. Faktor-faktor tersebut adalah ketersediaan air, tenaga kerja dan lingkungan masyarakat, serta faktor-faktor lain yang berbobot kecil antara lain fasilitas listrik, fasilitas transportasi, dan kemungkinan pengembangan.
Comments
Post a Comment